NASKAH DICORAT-CORET

Memang kritik itu tak seenak keripik dan bikin keriting.  Kisah dari supervision meeting beberapa hari yang lalu:

Spv: Rosa, your auxiliary supervisor minta dikirimi draft terbaru dari findings chapter yang sedang kamu kerjakan (sambil elus-elus brewoknya super PD)
Me: (panic attack dimulai) Umm…Sedang saya kerjakan tapi masih ga karu-karuan, Sir. Nanti kalau sudah bagus baru saya akan kirim
Spv: Ga apa kirim aja. Kita selalu harus mengedit lagi (terdengar wise)
Me; (ngeyel mode ‘on’) Tapi ini masih ‘shitty draft’ bentuknya, Sir. Saya malu mengirimnya. Pasti nanti banyak sekali kesalahan dan saya ga tahan baca kritiknya.
Spv: Shitty draft? Ga apa, kirim aja. Memang jadi academia berarti harus tahan kritik.
Me: (pengen ngeyel lagi tapi lihat beliau sudah mulai kerut dahi ga mood, aku batalkan puasa…eh …batalkan niat itu)
Me: Hmm. Okay. Nanti saya kirim ke beliau.

Hhhhhhhhh……Hayati lelah, Bang.

Setelah dikirim, Auxillary supervisor minta ketemu. Bikin appointment lewat uni-callendar, submit agenda rapat. Lalu…. ternyata beliau memuntahkan kritik bertubi-tubi…draft dicoret-coret dengan tulisan gede-gede ala cacing Ascaris Lumbricoides. Aku yang biasanya cuma dikritik ala Enterobious Vermicularis (kremi) merasa down banget dan pengen marah-marah sama main supervisor (Udah saya bilang itu masih shitty draft, SIR!)

Vonis sudah dijatuhkan: REWRITE ALL THE FINDINGS CHAPTERS!

#jadipengenbelajarmakancacing

coretan supervisor

Iklan

TOO MUCH DATA

From this week supervision meeting:

Spv: Why do you need four findings chapters? Three are enough.
Me : I need to incorporate the last one, Sir. It is important.
Spv: I know that feeling, Rosa. You have several reasons: A. You had spent so much energy to collect them. B, you have collected excellent quality of data that you feel important to analyze. C, you think you will need it to be written to change the policy or else.
Me : Exactly, Sir. Why do I need to limit my findings?
Spv: For two reasons: To communicate your ideas in a focused way, and to make examiner’s job easier!
Me : But I think it would not hurt to add another findings chapter, Sir
Spv: Here, have a look at these (pointing to his specially prepared list of topics). These are my analytic memos for my own thesis on 2012. Only half of them made it into my thesis.
Me : Deleting ideas is painful, Sir. Just like killing your own children!
Spv: Yep. I killed half of my children to make the other half better (smile winningly).

Silence. Then…

Me : (searching for another excuse) I am going to work really hard, Sir. Even when I am on vacation starting next month. And I am planning to meet…
Spv: No. You are not allowed to collect more data
Me : But Sir..
Spv: Rosa, please repeat after me: I, Rosa…
Me: (overwhelmed but seeing no other choice) I, Rosa…
Spv: …will not collect data anymore.
Me: (pretending not hearing any voice) But I want to, Doc! Why can’t I meet my sources?
Spv: Of course you can. For member checking. Not for more data!
Me : Okay. So it’s okay for me to have a month off, isn’t it?
Spv: It is your life, Rosa. I am just concern about your work…
Me : No worries, Doc. 🙂 See you in July! 😉

Lesson learned: After spending more than 200 hours of observations, you are not allowed to collect more data unless you can name it ‘member checking.’ Hahaha.

 

too much data

HIIG: How is it (the writing) going?

Setelah 2 minggu liburan dan lebaran akhirnya Pak Doping kirim email. Pas hari Selasa. Kami biasa meeting pada hari selasa. Pernah aku tanyakan:
‘Dear Guide, why do we always meet on Tuesday?’

Jawabannya ringan:
‘Because I know you love Tuesday, Rosa.’

Beliau ternyata hafal kalau hari Senin aku ngisi halaqah (Aku bilang: ” I teach on every Monday, Sir!” Dengan nada sok sibuk 😉 ), Rabu aku mengadakan workshop atau ngisi di Iqro Foundation, Kamis hari ‘shut up and write’ bersama teman-teman South East Asian Centre dan Jumat beliau ga masuk kantor. Jadilah hari meet up itu hari Selasa. Indeed, I love Tuesday. I call it ‘productive Tuesday’. Haditsu Tsulatsa versiku sendiri.

Hari ini perasaanku agak kacau karena belum mampu menyelesaikan meresponse reviewers articleku (sdh 2 minggu ngerjain itu blm klaar juga), ditambah suami dan anak2 sedang tidak di rumah. Eh…email dari beliau nongol. Lengkap dengan pertanyaan rutinnya saat aku ga kirim email lebih dari 2 minggu: HIIGR, means:

“How is it going, Rosa?”

dengan menyertakan link ke sebuah article penyemangat untuk merespon review.

Langsung seperti dapat suntikan semangat. Harus menulis. Tulisanku ditunggu.
Punya supervisor yang sangat perhatian itu memang sesuatu banget. Alhamdulillah.

Doakan aku supaya publikasi ini lancar ya friends! Thank you in advance atas doanya!

ADAPTING TO REJECTION

RejectionFrom one of our dialogues via emails:

Me: Dear teacher, I am very sad. One of my articles, on ‘the art of praising’, has been rejected for publication.

Spv: Sorry to hear about the rejection, though rejection is common for all academics.

Me: However, they provide feedback. But I am confused, I have no idea how to start revising it . I’d like to send it to another journal.

Spv: Here. I am sending you one of my paper, which is published in one of the best journals in my field. But what a reader of that piece doesn’t know is that the same paper was rejected by three other journals. The important thing is learning from the rejections.

Me: I need your ‘prescription’ for good writing, Sir.

Spv: Rosa, sadly there is no prescription or silver bullet for writing…just planning, tenacity, and perseverance. Carry on and work hard. See you next week.

FEEDBACK BUAT SI NGEYEL

Dosen pembimbingku (supervisor) adalah orang yang ngotot (baca: persisten) dan paling mendorongku untuk menjadi ethnographer sejati. Di awal-awal penulisan proposal disertasi, beliau memberi reading list hingga 5-9 buku per minggunya. Gila banget. Kemudian dengan sabar beliau akan mendengarkanku memaparkan intisari dari bacaan-bacaan itu di pertemuan dua pekanan kami.

Seringkali aku ngotot tidak mau membaca salah satu buku yang direkomendasikan. Misalkan aku pernah menolak membaca ‘Schoolteacher’ nya D.C.Lortie, buku yang ditulis 4 dekade yang lalu. So dated! Aku bilang bahwa aku butuh referensi yang up to date. Beliau menatapku setengah tertawa, lalu bilang: “Yep. It is an old book. Yet, it got cited more than 15.000 times. Check the google scholar!” Aku diam dan menghela nafas panjang. Lalu membacanya. Ternyata buku itu terus disebut ketika researcher-researcher lain bicara soal metode riset bidang pendidikan. Cited again and again. Bayangkan kalau aku ga pernah baca si Lortie. Betot. Bengong total. Atau terancam menderita OMEGA TIGA (Oh MEngapa GA ngerTI-ngerti juGA). Dengan pemahamanku terhadap Lortie, aku bisa membantu beberapa teman lain dalam penulisan analisa datanya. Thank you Lortie, and…Pak Doping!

Di lain waktu beliau ngotot aku harus buat semua rencana harian untuk menulis setiap pagi, dengan format ‘storyline’ dan melaporkan hasilnya setelah 2 minggu. Seperti biasa, aku, yang sedang meraih predikat menjadi mahasiswa ‘terngeyel 2016’ mencari berbagai dalih untuk tidak melakukannya. Dengan tenang beliau membujuk : “You will thank me one day, Rosa!” Indeed, dengan terbiasa merencanakan apa yang aku akan tulis setiap hari, aku bisa lebih mengoptimalkan energi dan mencegah ketagihan kronis melihat kartun PhD comic. Juga membantu beberapa kolega PhD student lainnya dengan menyarankan aktivitas ‘storyline’ yang sama.

Menjelang pengumpulan data beliau insisted bahwa aku harus buat logbook tiap hari dan melaporkannya pada beliau tiap 2 minggu. Gosh. Apa-apaan sih? Emangnya aku anak kecil yang tiap hari harus cerita ngapain aja di sekolah? Rebutan permen karet sama teman sebangku? Ih….!!!
Tapi aku buat juga, daripada menderita stress et causa pembangkangan. Takut kuwalat sama guru. Bagaimanapun beliau adalah ethnographer yang tahan banting, bisa berbulan-bulan hidup di gurun sahara Afrika. Literally. Jadi…aku ikuti saja. Anggap aja menulis diary, persis waktu SD. Bedanya aku ga akan cerita tentang pengalaman dimarahi kepala sekolah karena ngatain guruku ‘bodoh’.

Ketika aku mulai meng-compile data, transcribing, lalu coding dan menulis findings chapter ternyata logbook itu sangat berguna. Dari logbook itu aku dengan mudah mengorganisir data berbasis tanggal dan waktu. Lalu aku tulis manfaat penulisan logbook itu di chapter research methodology.

Di supervision meeting pekan lalu beliau memberikan banyak sekali feedback untuk 4 chapters pertamaku (Beliau mau membaca 35.000 kata-kata ‘ngawur’ku dalam perjalanannya dari Bali ke Sydney, dalam pesawat), Lalu membuat 34 points feedback.

Ini salah satunya.

Dan ini cara lain Pak Doping bilang “I told you so.”

SURAT DOSEN PEMBIMBING

MENULIS ITU BERJAMAAH

Sudah sebulan ini menulis findings chapter kedua dan rada mentok karena terngiang-ngiang pesan sang co-supervisorku yang memintaku untuk memperkuat employment theoritis terhadap analisa  di findings chapter. Artinya, aplikasi terhadap teori postcolonial harus lebih kuat lagi ditunjukkan pada penjabaran hasil penelitian.  Teori postcolonial memang tak mudah untuk dijabarkan ke dalam konteks medical education. Tak banyak literaturnya, meskipun ada. Maka aku punya hobi baru: BELITI alias ‘bengong berkualitas tinggi’. Pusing memikirkan bagaimana cara memperkuat perspektif postcolonial dan menuliskannya.

Aku pikir dengan bengong sendirian alias BENGIS ( bengong egois ) masalah akan terselesaikan. Ternyata tidak. Malah bikin depresi kumat. Maka…aku cari cara supaya bisa bejam alias ‘bengong berjamaah’.

Aku berusaha mencari teman untuk berdiskusi.  Teman sekamar, teman sekantor, juga diskusi dengan teman yang di SEAC (Southeast Asia Centre), bahkan dengan anak dan suamiku, diskusi dengan siapa saja. Belum terang lagi.

Teringat bahwa sang Co Spv menyarankan untuk konsul ke seniorku, Mas Jazak Akbar Hidayat, Widyaiswara di Dinas Sosial KalimantanTengah yang juga PhD student yang hampir submit disertasinya. Kami sama sama menggunakan postcolonial theory. Dr Phillips, supervisor kami berdua, memuji beliau tinggi-tinggi. Bahkan beliau menyebutkan kebanggaannya dengan cara Mas Jazak mengurai postcolonial dan mengawinkannya dengan poststrukturalism. Tapi aku khawatir Mas Jazak terganggu karena pasti detik-detik menjelang submit beliau akan sangat sibuk.

Tapi tak terduga siang ini aku lihat Mas Jazak sedang ‘bengis’ lalu aku sapa dan mohon waktu konsul. Kami diskusi selama 2 jam. Setelah itu terasa dunia lebih terang. I finally see the light at the end of the tunnel (bayangkan scene film Lord of the Ring).

Ternyata banyak sekali kerja-kerja yang sulit bisa diurai dengan kerjasama komunal. Bersatu kita teguh, bercerai kita ke KUA dulu. Yang namanya amal jama’i itu banyak sekali.  Thank you Mas Jazak, semoga selalu sukses. Ternyata memang PhD harus berjamaah.

*Illustrasi dari sesi ‘Sit quietly and write’ dari Comparative and International Education Network,’  (CoinEd) Sydney School of Education and Social Work (@SSEdSW), The University of Sydney.

20171103_115210

MEMBENTUK KEBIASAAN (BERSAMA IBNU TAIMIYAH DAN AL FARABI)

Tiap hari aku awali hari di kampus Usyd dengan menghafal sebaris dua baris ayat Al Qur’an, menyetorkannya ke pasanganku di ODOLA (komunitas One Day One Line Akhawat) lalu menyimak hafalannya. Setelah kira-kira 30 menit atau kurang dari itu, baru aku beranjak mengecek e-mail, merencanakan kegiatan hari itu (based on story line productivity booster) dan go on dengan rencana itu, sebisa mungkin. Biasanya aku teruskan dengan membaca (karena aku bukan tipe ‘early bird’ ataupun ‘night owl’. Mungkin lebih dekat ke ‘tekukur sore’). Tepat pukul 4 sore, aku mulai menulis.

Demikian aku upayakan rutinitas itu setiap hari kerja sama, sehingga menjadi habit. Ya. Aku jauh-jauh belajar ke Sydney tujuannya adalah agar membentuk habit, kebiasaan. (Hah?) Iya. Kebiasaan menghafal, kebiasaan merencanakan, kebiasaan membaca, kebiasaan menulis. Terutama kebiasaan menulis. Karena aku ingin jadi seperti Ibnu Taimiyah yang mampu menulis 40 halaman sehari. (Hah?) Iya. Aku yakin dulu Ibnu Taimiyah hanya mampu menulis beberapa ratus kata saja tiap hari (mungkin beliau juga juga menghapus beberapa puluh kata di antaranya). Lalu termenung, kemudian menutup laptopnya (lembarannya?) dan berdoa agar esok bisa meneruskan tulisan itu lagi, dengan kecepatan minimal sama syukur syukur bertambah. Hingga akhirnya ia bisa menulis 40 halaman sehari. Kebiasaan menjadi manusia produktif.

Hampir 3 tahun dan kebiasaan menulis itu sudah mulai terbentuk. Ada rasa ‘gatal’ kalau tidak menulis beberapa ratus kata setiap hari. Tidak harus thesis. Terkadang hanya ide, fiksi, syukur-syukur ide artikel, minimal postingan di facebook. Pokoknya menulis (terkadang menggambar, jika kata tak mampu mengungkap rasa, ataupun mengkomposisi lagu). Rasa gatal yang hanya bisa digaruk dengan menekan keypad, akan ‘menjadi’ jika tidak diturutkan selama lebih dari 2 hari. Hampir gila rasanya. Mending gak makan daripada gak bisa nulis. Seperti pingin pipis tapi ga nemu toilette. ‘Nggilani’. Kebelet. Lama-lama bisa gedor pintu ataupun mukul orang. Hhh..oke…ga segila itu sih. But…you know what I mean. Makanya I hate public holiday. (hah?) Iya, karena public holiday adalah disruption terhadap rutinitas menulisku.

Menghafal qur’an juga seperti itu. Kalau tidak menghafal ataupun murajaah, rasanya ga enak. Ada lapisan logam tebal di permukaan lidah yang lama-lama melebar, semacam membran diphteri yang membuat susah bernafas, jika tidak menyentuh mushaf. Makanya I hate period. Having period berarti aku sedikit kehilangan waktu mengulang ketika shalat. You know, nyaman sekali membaca qur’an dalam shalat. Apalagi dalam tahajud. Seperti…bertemu BFF (best friend forever) setiap hari. You know, aku ga punya BFF lagi sejak Irma syahid dalam tsunami. Tapi…perasaan excited bertemu BFF itu aku rasakan sejak mulai menghafal qur’an. It is not quite the same, but it is similar.

Yang aku pahami, menulis thesis atau buku dengan menghafal qur’an itu punya banyak kesamaan. Perlu dibuat menjadi kebiasaan. Tak penting berapa ayat yang kau hafal, berapa kata yang kau tulis, tapi harus sabar, artinya ada elemen penting yang harus dipertimbangkan: WAKTU. Jangan buru-buru menghafal, karena tujuannya bukan menghafal seluruh qur’an, tapi berteman dengan qur’anlah targetnya. Dekat, dan cinta. Jangan terburu-buru dan asal dalam menulis, karena bukan thesis targetnya, tapi kebiasaan meneliti, berteman dengan ilmu. Dekat, dan cinta. Keduanya, hafalan dan tulisan adalah produk diri kita. Keduanya adalah perwujudan diri kita dalam dimensi yang berbeda. Maka bersabarlah, karena kita hanya ingin menghasilkan produk terbaik, dari diri yang berusaha terus menjadi baik. Hafalan yang membuat kita bisa menyenandungkan qur’an dimana saja dan akan membela kita di alam kubur. Tulisan yang berguna bagi orang lain dan akan jadi amal jariah dan terus berguna sampai kita di alam kubur. and beyond. Sabar, jangan terburu.

Maka…aku melepaskan diri dari tujuan-tujuan rendahan semacam jadi hafiz 30 juz ataupun jadi Philosophy Doctor. Kalaupun kedua hal itu terjadi, mereka hanya jadi landmark, penanda milestone penting dari proses yang panjang, yang terus membentang setelah kedua hal itu tercapai. Mohon doanya, agar hidupku yang pendek ini jadi memanjang dengan kedua proses itu (AMIN). Dan aku bisa menghayati lagu masa kecil yang kita nyanyikan setiap ulang tahun: “Panjang umurnya…panjang umurnya…panjang umurnya serta mulia…serta mulia….serta mulia…”

Karena umur kita tetap, sudah ditaqdirkan, friends. Interestingly, EFEK umur kita bisa memanjang. Dan aku membayangkan Al Farabi tersenyum di alam sana, saat mendengarkan dentingan pianoku…sambil membaca temuannya:Not balok.

Panjang umurnya…panjang umurnya…serta mulia…serta mulia…

Bagaimana dengan kebiasaanmu, teman?

membentuk kebiasaan

POMODORO TIMER: JURUS JITU FOKUS MENULIS SKRIPSI/TESIS

Apakah Anda pernah merasa sulit untuk focus menulis skripsi/tesis? Sering teralihkan untuk mengecek pesan di mobile phone ataupun media sosial? Saya sering… Hal ini menjadi problem besar bagi saya, walaupun sebenarnya ada keinginan yang kuat untuk segera menyelesaikan  tesis dan saya punya waktu yang cukup luas.

Sejak mengikuti salah satu sesi menulis bersama di kampus yang disebut ‘SHUT UP and WRITE’  (SUW) saya mengenal satu trik jitu untuk focus yaitu ‘pomodoro technique’.  Ketika ikut SUW kami menggunakan rentang 25 menit lalu jeda 5 menit dan diteruskan sampai kiamat…eh…gak lah.  Biasanya kami menulis selama 8×25 menit alias 4 jam.  Singkatnya teknik ini menggunakan stopwatch yang di-setting untuk membuat kita bekerja dan menulis dalam 25 menit, lalu istirahat selama 5 menit, lalu menulis lagi 25 menit, dan istirahat lagi 5 menit.  Setelah 4x sesi 25 menit, kita istirahat selama 15-20 menit lalu memulai sesi yang baru.

Apa sih artinya ‘pomodoro’?

Pomodoro adalah kata dari Bahasa Italia yang berarti TOMAT. Hah? Apa hubungannya dengan manajemen waktu? Ada dong… Gini. Ceritanya, dulu ada seorang mahasiswa yang kemudian menjadi ahli pembuat software yang bernama Francesko Cirillo yang sulit focus dengan tugasnya.  Akhirnya ia bertekad merencanakan untuk bekerja fokus pada sebuah tugas selama 25 menit dengan sebuah jam yang digunakan di dapur yang punya fungsi timer dan berbentuk TOMAT.  Setiap 25 menit ia istirahat selama 5 menit.  Setelah 4x ia istirahat lebih panjang.  Dengan fokus pada tugasnya, ia sukses menyelesaikan studinya dan lulus dengan cemerlang.  Ia menulis sebuah buku yang terkenal berjudul : ‘The Pomodoro Technique: The life-changing time management.’  Buku ini sudah terjual lebih dari 2 juta eksemplar.

Apa kelebihan teknik pomodoro?

Pertama, jurus pomodoro sangat tepat untuk orang yang sulit fokus seperti kita-kita ini, Bro! Dikit-dikit cek facebook, twitter, Instagram! Istilah kerennya adalah para ‘chronic proscratinator.’  Orang-orang  yang punya keinginan besar untuk segera lulus tapi kurang bisa berkonsentrasi pada tugasnya.  Istilah kunonya ‘nafsu besar –tenaga kurang.’  Akhirnya masa studi memanjang, ada reaksi alergi saat bertemu supervisor alias dosen pembimbing, takut ditanya ‘dik, sudah sampai mana skripsi/tesisnya?’ (langsung gatal-gatal dan garuk garuk kepala 🙂 )

Kedua, adanya istirahat tiap rentang waktu akan membuat konsentrasi kita segar kembali.  Maklum, rentang konsentrasi manusia rata-rata macam kita ini adalah 20-25 menit.  Tidak lebih.  Jika kita tidak istirahat, dijamin kita akan kelelahan sendiri dan konsentrasi menurun drastic setelah  tempo waktu itu.  Untuk meningkatkan kembali konsentrasi kita maka perlu jeda, melakukan hal yang lain misalkan beraktivias ke kamar mandi (terserah deh mau BAB, BAK, cuci tangan atau sekedar cungkil upil), bikin susu atau green tea (ehm…maklum bro, ane ini dokter,  jadi suka minuman sehat gitu…J) ataupun hanya jalan-jalan keliling kost-kostan supaya oksigen kembali mengalir ke otak kita yang sudah kebanyakan mie instant itu.

Ketiga, menerapkan teknik ini pastinya GRATIS.  Memang Anda bisa pakai timer online yang memakan sedikit kuota internet, tapi…kita kan punya hape, Bro!  Ada stopwatch yang bisa disetel untuk 25 menit di sana.  Gunakanlah titipan amanah dari mamah dan papah itu untuk fungsi yang memang mereka doakan siang malam untuk kita! Ataupun bisa gunakan jam weker warisan nenek-kakek, setel alarm 30 menit (lebih dikit sama sodara ga papa khan) sambil mengingatkan kita yang jarang teringat untuk mendoakan our kind grandparents ( Al Fatihah!)

Adakah kerugian pomodoro?

Tentu ada.  Tak ada gading yang tak retak, tak ada gelas yang anti sumbing dan tiada computer yang bebas virus.  Pertama, pomodoro tidak cocok untuk orang yang memang sudah mampu fokus berjam-jam mengerjakan tugas secara professional sehingga mereka bisa lupa untuk sekedar nyengir.  Apalagi jika tugas kita itu tidak mungkin selesai dalam 25 menit dan tak boleh dipotong jeda, misalkan rapat penting yang melibatkan orang-orang berkelas .  Kedua, pomodoro tak sesuai untuk diterapkan pada acara lamaran ataupun akad nikah  (Ya iyalah!!!)

So, setelah tahu keuntungan dan kerugian pomodoro, why don’t you try it, guys?  Yuk kita coba, jangan hanya direncanakan saja.  Seperti kata David Allen:

“Your mind is for having ideas, not holding them.”

pomodoro

BERDIRI DI BAHU RAKSASA

Seorang teman PhD student mengeluh saat menyusun proposal thesis.
“Mbak, aku stress. Makin banyak baca aku merasa makin bodoh. Bukan tambah pintar. Gimana nih?

Aku bilang:
“Hahaha. Stress itu normal. Aku juga begitu. Teman-teman seruanganku bilang itu normal. Kalau sampai gelisah dan depressi….masih variasi normal. Buat saja janji dengan ‘Conselling and Psychology Support’ alias CAPS. Di sana….akan bertemu dengan psikolog yang akan membantu kita belajar”.

“Lha…masak makin bodoh gitu dibilang normal?” tanyanya lagi.

“Iyalah. Makin banyak baca, makin banyak mengenal orang-orang pintar. Makin banyak ilmu yang tidak kita kuasai. Dulu waktu kita lulus S1 rasanya kita ‘pintar’, mungkin karena bacaannya baru beberapa puluh referensi. Waktu lulus master….sudah merasa agak bodoh karena sudah baca seratusan lebih referensi. Pas PhD…kita ngomong saja harus hati-hati..khawatir ‘bodohnya’ lebih terlihat. Kalau bukan bidang  yang kita tekuni, kita makin khawatir menjawab, karena ilmu kita hanya di bidang yang makin sempit tapi mendalam”.

“Aku kok jadi khawatir kalau ditanya orang, Mbak.” curhatnya lagi.

“Sama. Aku sering merasa ga pede menjawab pertanyaan yang bukan bidangku. Karena kita tahu banyak orang lain yang ahli di bidang itu dan lebih pantas menjawabnya. Karena kita sudah baca ide-ide mereka. So…makin banyak ilmu makin merunduk. Ilmu padi. Makanya ketika kita buka google scholar ada sebuah quote dari John Salisbury, seorang scholar abad ke12”

“Quote yang mana, Mbak??

“Itu tuh…yang bunyinya ‘stand on the shoulder of giants‘. Quote beliau sebenarnya lebih panjang:

Who sees further a dwarf or a giant? Surely a giant for his eyes are situated at a higher level than those of the dwarf. But if the dwarf is placed on the shoulders of the giant who sees further? … So too we are dwarfs astride the shoulders of giants. We master their wisdom and move beyond it. Due to their wisdom we grow wise and are able to say all that we say, but not because we are greater than they.”

Maksudnya: siapa yang bisa melihat lebih jauh: kurcaci atau raksasa?
Memang raksasa tinggi. Tapi jika kurcaci berdiri di bahu raksasa, dia juga dapat melihat sama jauhnya dengan raksasa. Kita ini seperti kurcaci, ilmunya sedikit. Tapi kita membaca ilmu-ilmu dari ilmuwan-ilmuwan sebelum kita, yang mencurahkan the rest of their life for the advancement of knowledge. Kita mengambil ilmu mereka sehingga pandangan kita jadi lebih jauh. Maka kita jadi hebat bukan karena pandangan kurcaci yang sempit, tapi karena bahu raksasa yang kita jadikan pijakan untuk melihat. Berterimakasih pada para pendahulu dan jangan sombong. Sudahlah pendek, kalau sombong maka orang akan eneg ngelihat kita”

“Hmmm. Gitu ya mbak?”
“Iya. Sesama kurcaci, kita saling mendukung ya?”

#inspirasidialogLPDP awardee dan buku “telling a research story”

 

 

Blog di WordPress.com.

Atas ↑